Bingung mau kasih judul apa soal pembahasan ini hehe, break nulis novel "OH ... No!" dan "Love or Lust" yang masih 20 halaman dengan target masing-masing 200 halaman, tiba-tiba kepikiran soal pembahasan cinta setelah ada teman yang BBM dan minta didukung doa soal jodoh. Jadilah teringat untuk sharingkan hal ini. Biasanya kalau tidak sempat buka blog, saya post sharing di caption instagram, sayangnya untuk pembahasan cinta-cintaan yang panjang ini, lebih afdol kalau nulisnya di blog hehe.
Kurang lebih 1 bulan ini, saya bertemu banyak orang dengan karakter dan profesi yang berbeda dengan usia random, tapi masih sepantaran, dan saat kami mulai mengobrol pembahasannya nggak jauh-jauh dari
kata "cinta" dan serpihannya hehe, tergelitik untuk menulis topik ini
kembali karena munculnya beberapa pertanyaan dari teman-teman yang masih digalaukan oleh cinta hehe.
Cinta memang nggak ada matinya untuk
dibahas, selalu ada topik yang awalnya hanya sebuah pertanyaan, akhirnya berujung pada pembahasan yang panjang lebar tak berujung kalau nggak distop sendiri
Saya akhirnya menyimpulkan satu hal bahwa, kesalahan banyak orang saat
jatuh cinta adalah "bersikap kekanak-kanakan" mungkin saya juga salah
satu pelaku yang pernah terjebak dalam sikap kesrimpet ini dan menyadarinya baru belakangan hehe ...😅 Maklum manusia kan begitu, menyesalnya di akhir kalau sudah tersandung dan baru sadar lalu berkata, "oh iya ya." hehe.
Kekanak-kanakan disini bukan hanya soal penyakit cinta seperti: bingung sendiri, cemburu nggak jelas, atau pas jatuh cinta jadi senyum-senyum sendiri mirip orang gila hehe, lalu mendadak suka dandan (untuk cewek) dan mendadak wangi, bersih, rapih (untuk cowok) hehe, tidak jarang yang jadi labil nggak jelas, perubahan mood yang grafiknya nggak stabil, sedih dan senang bergantian nggak konstan, dan masih banyak lagi serangan cinta yang lain.
Bukan itu yang saya mau bahas, bagi saya itu hanya bagian kecil saja dari kesalahan yang sebenarnya. Kekanak-kanakan yang saya maksud disini
adalah kekanak-kanakan yang justru tidak sadar dilakukan oleh banyak orang yang terserang penyakit cinta. Apa itu? jawabannya adalah "lupa diri"
Ada banyak orang yang kalau sudah jatuh
cinta bahkan sampai akhirnya "jadian" dengan orang yang dicintai, berujung pada lupa diri seperti anak kecil yang
mendapatkan mainan baru. Pokoknya dunianya berubah deh, jadi sibuk sendiri dengan mainannya yang dibungkus dengan "cinta", sampai-sampai sekitarnya
dianggap figuran. Lupa manusia lain dan terlebih lupa Tuhan.
Contoh kecilnya nih, dari yang rajin ke gereja jadi sering bolong karena milih nongkrong dengan pacar hehe, dari yang rajin doa, jadi sedikit kompromi karena keasikan chat atau teleponan, bahkan ada juga kan contoh kalau diminta bantuan orang tua ogah-ogahan, tapi kalau pacar minta ditemenin langsung dah semangat 45, itu sudah salah loh, tapi nggak sadar kan? Masih banyak banget contoh lainnya, ingat-ingat sendiri saja deh, kesalahan-kesahan semacam itu hehe.
Sikap demikian mirip banget dengan anak kecil yang pas dikasih mainan baru, saking excitednya bin senangnya mendapat sesuatu yang baru, akhirnya nggak peduli sama yang memberi mainan tersebut. Kadang
dipanggil-panggil semacam nggak denger dunianya sudah terserap habis di mainannya. Kalau anak kecil si lucu ya, wajar, lah kalau hal demikian terjadi pada orang yang sudah dianggap dewasa, tentunya nggak lucu dong!
Coba bayangkan, misal kita dikasih orangtua kita ponsel
baru, saking senengnya, sikap kita jadi lupa diri, kita jadi nyebelin banget,
boro-boro ngucapin makasih, yang ada justru cuekin orangtua kita yang udah kasih. Kita langsung sibuk dengan ponsel baru itu, lupa segala hal, lupa tanggung jawab, bayangin perasaan orangtua yang
udah kasih ponsel itu, kemungkinan besar adalah pengen
ambil lagi ponsel tersebut, karena kita dianggap belum mampu bertanggung jawab dengan apa yang di punya. Nah mungkin seperti itu juga perasaan Tuhan saat kita lupa diri karena cinta.
Seseorang yang lupa diri, logikanya sudah dilemahkan oleh perasaan, cinta sudah menjadi semacam dewa tak berwujud yang sanggup menghipnotis pelakunya tanpa ampun. Bahkan bisa membuat orang lupa akan visi dan misinya
bersama Tuhan. Yang seperti ini bahaya loh, karena secara tidak langsung bisa berujung pada
mendewakan sesuatu yang dianggap lebih penting dari apapun. Posisi nomor satu
yang hanya untuk Tuhan tergeser secara tidak langsung oleh manusia yang
kita cintai.
Padahal perasaan cinta dan mendapatkan
pasangan adalah pemberian dari Tuhan ya kan? bahkan bukan hanya sebuah pemberian tapi bisa dikategorikan anugerah.
Saya jadi berpikir, ada kemungkinan penyebab seseorang sering putus cinta, gagal, jadi nggak cocok, dan belum menemukan
pasangan yang benar-benar pas dari Tuhan, disamping karena faktor belum utuh di
dalam diri sendiri (nanti saya bahas di lain kesempatan soal utuh ini) juga bisa jadi karena Tuhan masih menganggap orang tersebut
kekanak-kanakan dan belum layak menerima pemberianNya itu.
Kita harus ingat
satu hal bahwa pasangan itu salah satu anugerah terindah dari Tuhan, yang
didalamnya terdapat tanggung jawab yang nggak kecil, itulah kenapa nggak
mungkin Tuhan asal-asalan kasih. Masuk akal kan?
Lalu gimana supaya tidak salah lagi
kedepannya, yang pertama sih perbaiki diri itu sudah pasti, jangan bingung pacaran dulu karena merasa kesepian, jangan ingin pacaran supaya dicintai diperhatikan, dibelikan ini itu, jangan pacaran kalau alasan kita pacaran masih seputar hal-hal yang bersifat egois dan tidak jauh dari sebuah transaksi. Pacaran itu bukan soal take and give, tapi soal give and give, yang akhirnya bisa menjadi give and get. secara alami.
Saya ada contoh teman yang paling tidak bisa tidak punya pacar, karena dia butuh disayang dan diperhatikan, kisah cintanya sering gagal, masalahnya sepeleh karena pacarnya sudah tidak perhatian lagi, sampai akhirnya dia menyadari kalau perjalanan cinta yang seperti ini capek sendiri, gimana tidak? Hubungan seperti itu ujungnya akan muter-muter seperti bianglala karena yang salah bukan dipasangannya tapi pribadi pelakunya. Kalau kalian ingin mengkoleksi mantan sih, monggo ya hehe. Kalau saya pribadi tidak akan pakai jalur itu hehe, harapannya itu pacaran sekali langsung nikah hehe, putus cinta itu saya ibaratkan sebagai sebuah kegagalan bukan prestasi. Jadi saya tidak bangga soal itu, karena hubungan itu soal hati bukan area playground yang bisa dimainkan sesuka hati.
Meskipun dalam perjalanannya, cinta tidak selalu mulus, ada banyak hal yang seringkali berjalan tidak sesuai harapan, dan setiap orang pasti punya lika-likunya sendiri, untuk menemukan orang yang memang tepat dari Tuhan. Yang pacaran lama saja bisa tiba-tiba putus tanpa sebab, ini beneran loh, ada beberapa contoh yang terjadi di sekitar saya, orang pacaran 7-10 tahun ujungnya nikah dengan orang yang berbeda. Jadi segala kemungkinan bisa terjadi, dan untuk hal yang tidak pasti ini lebih baik jangan galau sendiri, rugi!
Saran saya jangan pacaran dulu, kalau belum siap, sebelum kamu benar-benar merasa UTUH. Utuh disini diibaratkan gelas yang berisi air yang penuh. Saran saya, jangan pacaran dulu jika airnya masih terisi setengah, itu berarti belum benar-benar bahagia sepenuhnya saat sendiri.
Sangat tidak disarankan untuk mengisinya dari orang lain, seperti mencari kebahagiaan lain melalui pasangan, duh resiko besar, percaya deh!
Kalau menemukan pasangan yang utuh sih masih bagus ya, tapi juga kasihan, karena pasangan yang utuh tersebut jadi korban yang terus memberi, nah kalau menemukan pasangan yang sama setengahnya, ujungnya jadi saling menuntut, ini makin lama akan capek sendiri. Jadi akan lebih baik kalau kita ingin atau berencana menjalin hubungan dengan orang lain, lebih baik menjadi pribadi seperti gelas yang berisi air utuh dulu, dengan cara cari Tuhan dulu, perbaiki diri dulu, cintai diri sendiri dulu dengan benar, baru meminta Tuhan mempertemukan orang yang juga utuh, jadinya seimbang. Sesuai dengan perintah Tuhan (2 Korintus 6:14). Paham kan?
Coba terapkan trik ini.
1. Berdoa
Permohonan dilakukan bukan disaat kita sedang jatuh cinta, tapi justru disaat kita sudah siap jatuh cinta, tapi belum jatuh cinta kepada siapapun, dan kita baru meminta kepada Tuhan seorang pasangan.
Dalam tahap ini, kita harus dalam keadaan hubungan yang sehat dengan Tuhan, intinya mempunyai hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, tidak ada persoalan hati dengan sesama, simpelnya sudah pengakuan dosa ke Tuhan, dan sudah pemulihan secara pribadi dulu, jadi tidak ada penghalang untuk memohon. Baru setelah itu meminta apa yang kita mau, jangan malu-malu, ibaratkan kita seorang anak yang sedang meminta kepada Bapanya, silahkan mintanya secara detail ya, dan tidak dilarang kok sama Tuhan hehe, mumpung dikasih kesempatan Tuhan meminta loh, maksimalkan.😆
Beberapa contoh teman yang saya dukung dalam doa dan mereka perlihatkan listnya kepada saya dan kita doakan bareng-bareng, 90% bertemu dengan pasangan yang sesuai dengan yang didoakan dan berujung pada pemberkatan nikah loh. Ini bukti betapa Tuhan kita itu awesome, super dasyat.
2. Mengucap syukur
Saat cinta itu tiba-tiba datang menghampiri kita, jangan buru-buru ambil kesimpulan, wah ini dari Tuhan nih, jangan dulu, jangan GR dulu ya hehe. Alangkah lebih bijaknya kalau balik ke Tuhan dulu, yang pertama kali harus kita lakukan adalah berterima kasih aka mengucap syukur atas perasaan yang sudah Tuhan beri. Puji Tuhan dong dikasih kesempatan mengasihi orang lain, kita bisa mendoakan, itu anugerah loh, jangan salah hehe.
Wajib hukumnya berterima kasih kepada si
pemberi cinta yaitu Tuhan. Jadi jangan sibuk sendiri dengan pemberiannya ya. No baper, No
ngarep, No sikap-sikap geje nggak mutu (untuk cewek khususnya ya hehe) Balik
aja ke Tuhan deh ya! Dan tetap bersikap dewasa, jangan menyunat waktu kita
yang sudah terjadwal untuk Tuhan demi pasangan atau orang yang kita cintai, stay cool aja lah, karena bisa jadi kita harus melewati beberapa orang dulu, untuk bertemu dengan sosok yang sebenarnya dari Tuhan.
Ada kasus teman saya seperti itu, dia harus melewati dua lelaki dulu, sampai akhirnya dia bertemu dengan The Right One yang sesungguhnya, jadi penting untuk tetap menjalin hubungan dengan Tuhan, Tuhan kan harus lihat dulu nih ketulusan kita sejauh mana.
3. Tunggu dan jangan tergesa-gesa
Kesalahan banyak orang saat tersengat penyakit jatuh cinta adalah ingin segera bersama, dan tergesa-gesa mewujudkannya tanpa melibatkan Tuhan, padahal bisa jadi cinta itu datang hanya untuk menguji kita loh, misal nih kita dikasih perasaan cinta, bisa jadi Tuhan ingin kita tahu, apakah kita tetap mengandalkan Tuhan atau resah sendiri, dan sikap kita tersebut yang menentukan keputusan Tuhan. Jadi, jangan sampai Tuhan berubah pikiran dan semuanya diambil lalu di keep dulu untuk waktu yang lebih lama hanya karena sikap kita yang tergesa-gesa dan merusak jalan cerita ya. Kuncinya satu, stay calm, jangan tergesa-gesa. Saran saya sih sublimasikan perasaan ke dalam hal lain, entah itu pekerjaan atau pelayanan.
Ingat kisah kakung adam nggak? Dia nggak pernah ribetin soal uti hawa kan? dia fokus aja kerja kasih nama tumbuhan dan binatang, sampai akhirnya Tuhan sendiri yang tergerak dan dibuat tidur, lalu dibentuklah hawa. Akan lebih indah kalau membiarkan Tuhan tergerak hatinya, daripada kita memangkas jalan cerita yang sesungguhnya.
Jangan bingung, jangan galau. Akan ada saatnya kok kalau sikap kita dirasa Tuhan sudah
dewasa, dan pantas mendapatkan pasangan dari Tuhan, Tuhan pasti akan mempertimbangkan dan kasih pasangan terbaik itu,
tenang bagi Tuhan, its so easy, karena kita sudah dianggap sanggup untuk
menjalani jalan cerita cinta yang sudah
dirancangNya.
Ingat! banyak orang yang merasa sudah menemukan
pasangan hidupnya, tapi tidak banyak orang yang benar-benar mendapatkan pasangan yang
memang dari Tuhan, dimana saat mereka dipertemukan, mereka memegang visi dan
misi dari Tuhan, dan menjadikan pasangan tersebut untuk maksud dan tujuan Tuhan yang
mulia, jadi hidupnya pasti lebih bermakna dan WOW, bisa jadi contoh, menginspirasi
banyak orang. Saya membayangkannya pasti lebih seru. Nggak harus jadi pendeta, dan sok rohani loh ya. Jadi saksi itu jangkauannya luas hehe.
Kalau tujuan kalian menjalani hubungan adalah pernikahan, terapkan hal ini, karena bicara soal pernikahan itu ibarat naik roller coaster, mau kita teriak teriak, sampai mual, pusing, bahkan hampir pingsan, kita nggak bisa minta turun di tengah jalan kalau belum saatnya berhenti. Sama juga seperti naik pesawat, biarpun kita takut setengah mati, keringetan panas, dingin, nggak bisa minta turun kalau belum sampai tujuan.
Jadi jangan galau lagi soal cinta dan pasangan ya, semua pasti ada waktunya kok. Lebih baik itu galau soal tugas dan tanggung jawab kita selama hidup. Apa yang sudah kita beri untuk orang lain, karena kita pasti bakal malu kalau pas sudah menghadap Tuhan, kita nggak ngelakuin apa-apa untuk kemuliaan namaNya.
Kunci hidup kita sebagai anak-anak Tuhan itu cuma ini.
Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya , maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Tanamkan dalam hati, kalau yang kekal saja sudah dikasih cuma-cuma apalagi soal yang sementara di dunia sih?!Ya nggak?!
God Bless 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar