Translate

Jumat, 18 November 2011

BINTANG


“Braaaakkkk…” Aku merasa badanku benar2 lemas tak berdaya,tidak bisa menyokong semua berat tubuhku…kontan pada saat itu pula aku tergeletak..gelap..lemas, mungkinkah saat ini ajalku?..aku tak tahu, tak ingat lagi….
“Len..bangun len..len”..ada sesosok wanita yang mencoba menyadarkan aku, membangunkan aku, aku dengar suaranya, tapi mata itu terlalu berat untuk terbuka, dan badan ini seperti tertindih beban berat sulit untuk bergerak…dingin semuanya terasa dingin.
“kamu sudah sadar len?, syukurlah..” ucap Rena, yang tadi sempet berusaha membangunkanku.”ren, aku dimana?kamu dirumah sakit len, tadi kamu pingsan.” “pingsan?” bukan sesuatu yang mengagetkan buat aku, sering sekali aku pingsan tak dapat dihitung, yaa aku tak dapat menolaknya penyakit tumor otak dikepalaku semakin hari semakin menggerogoti tubuhku, apalagi yang bias aku lakukan, selain pasrah dengan jalan hidup Tuhan kadang aku sering lupa aku sedang dimana, aku lagi apa?,bahkan ada beberapa teman aku yang aku lupa,memori otakku makin berkurang dengan tumor yang semakin brekembang dengan cepat, tak dapat ditolak. Gag ada pilihan lain!! “len?”Rena mengagetkanku. “hmm?oo aku gpp ren” “kamu harus istirahat yaa..kalau belum cukup kuat kamu gag beleh berjalan sembarangan”.
Ada sesuatu yang mendadak menyayat hati aku, Dira kekasih aku, bukan!! dia bukan kekasih aku, aku tak bisa sebut dia kekasih aku, karena sampai sekarang kita gag ada komitmen untuk berpacaran, yaa benar apalah artinya kita berpacaran, kalau nantinya dia akan semakin menderita melihat keadaan aku, tapi kenapa perasaan ini ada, kenapa perasaan ini begitu kuat, apa aku salah?. Dia gag tahu kalau aku sudah 1 minggu di rumah sakit, aku harus menghilang dengan cepat, atau bilang kalau aku gag ingin berhubungan lebih lama dengan dia sebelum semuanya terlambat dan hanya akan membuat luka aku atau dira. “Len?...sabar yaaa” Rena seolah tahu apa yang aku rasain dia memeluk aku dengan kuat, aku tetap menangis tiada henti, tapi air mata ini tak kunjung kering.
3 hari lagi aku harus operasi, dan operasi yang sangat riskan, karena aku harus kehilangan 90% memori aku selama aku hidup, otomatis aku gag akan ingat dira, senyum dia, kata2 sayang dia, kehangatan dia, kata2 motivasi yang keluar dari mulutnya, aku ga akan lagi bisa dengar. Selama ini aku meminta bantuan rena untuk merahasiakan tentang penyakit aku, dan mengatakan ke dira kalau aku ada urusan keluar kota untuk waktu yang tidak ditentukan.
Hampir tiap hari aku mendengar ringtone sms dan telp dari dira tapi tak satupun aku balas, aku hanya melihat sambil mengeluarkan air mata, jeritan hati aku yang tak trima dan tak bisa menahan rindu yang teramat dalam kepadanya.
“Ren..” “yaa..” “kalau nanti aku operasi..bilang sama dira kalau aku sangat mencintai dia,kalau ada apa apa yang terjadi, tolong kasihkan kotak ini ke dia”Kotak itu berisi semua kenangan aku dan dira “Alenn….” Suara rena lirih, butiran butiran air mata menari2 dikedua bola matanya. “pasti len, tapi kamu harus yakin mujijat itu pasti ada, kamu harus yakin..kalau kamu pasti ingat semua kenangan kamu sama Dira” “gag ren, aku sadar..bahwa bintang itu hanya untuk dikagumi, bukan untuk dimilki..siapa aku,aku hanya bayangan kecil yang gelap,yang hanya bisa merasakan kehangatan sinar bintang, ada atau tidak ada aku, itu tidak akan berpengaruh pada bintang, bintang akan terus bersinar,Dira adalah bintang hati aku, selamanya dia akan bersinar disini, meskipun aku tahu mungkin bagi dira aku bukan siapa siapa,dia hanya care ke aku Rena bukan cinta..”Isak tangispun tak dapat aku hindari “Len, kenapa kamu ngomong seperti itu?, aku ngeliat Dira juga sayang sama kamu, gag mungkin  kalian bisa sejauh ini bersama kalau dia gag sayang sama kamu.” “mungkin, tapi memang lebih baik seperti ini Ren, seandainya dia cinta sama aku, ini akan semakin sulit buat aku, karena aku gag bisa kasih harapan apa2 kedia” “ssttt..gag boleh ngomong apa2 sekarang tidur oke, istirahat”
3 hari kemudian
“Alen kamu siap?” aku menganggukan kepala, infus mulai dipasang dipergelanganku.
Yaa aku siap, aku siap dengan apa yang akan terjadi nanti, selamanya aku selalu menganggap dira adalah bintang aku, dan bintang itu hanya untuk dirasakan sinarnya bukan dimiliki, sekuat apapun cinta aku, gag akan bisa merubah keadaan kecuali mujijat, teruslah bersinar bintang, sinari aku yang lemah ini. Sadar Alen bintang itu hanya untuk dikagumi bukan untuk dimiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fair n Lovely Powder Cream 2-1, Bebas Kilap Seharian (Bye-bye bedak, helo wajah halus natural)

Memiliki pekerjaan yang diharuskan untuk ber- makeup setiap hari,  terkadang beban sendiri bagi saya secara pribadi, karena pa...