“Braaaakkkk…” Aku merasa badanku
benar2 lemas tak berdaya,tidak bisa menyokong semua berat tubuhku…kontan pada
saat itu pula aku tergeletak..gelap..lemas, mungkinkah saat ini ajalku?..aku
tak tahu, tak ingat lagi….
“Len..bangun len..len”..ada sesosok
wanita yang mencoba menyadarkan aku, membangunkan aku, aku dengar suaranya,
tapi mata itu terlalu berat untuk terbuka, dan badan ini seperti tertindih
beban berat sulit untuk bergerak…dingin semuanya terasa dingin.
“kamu sudah sadar len?, syukurlah..”
ucap Rena, yang tadi sempet berusaha membangunkanku.”ren, aku dimana?kamu
dirumah sakit len, tadi kamu pingsan.” “pingsan?” bukan sesuatu yang
mengagetkan buat aku, sering sekali aku pingsan tak dapat dihitung, yaa aku tak
dapat menolaknya penyakit tumor otak dikepalaku semakin hari semakin
menggerogoti tubuhku, apalagi yang bias aku lakukan, selain pasrah dengan jalan
hidup Tuhan kadang aku sering lupa aku sedang dimana, aku lagi apa?,bahkan ada
beberapa teman aku yang aku lupa,memori otakku makin berkurang dengan tumor
yang semakin brekembang dengan cepat, tak dapat ditolak. Gag ada pilihan lain!!
“len?”Rena mengagetkanku. “hmm?oo aku gpp ren” “kamu harus istirahat yaa..kalau
belum cukup kuat kamu gag beleh berjalan sembarangan”.
Ada sesuatu yang mendadak menyayat
hati aku, Dira kekasih aku, bukan!! dia bukan kekasih aku, aku tak bisa sebut
dia kekasih aku, karena sampai sekarang kita gag ada komitmen untuk berpacaran,
yaa benar apalah artinya kita berpacaran, kalau nantinya dia akan semakin
menderita melihat keadaan aku, tapi kenapa perasaan ini ada, kenapa perasaan
ini begitu kuat, apa aku salah?. Dia gag tahu kalau aku sudah 1 minggu di rumah
sakit, aku harus menghilang dengan cepat, atau bilang kalau aku gag ingin
berhubungan lebih lama dengan dia sebelum semuanya terlambat dan hanya akan
membuat luka aku atau dira. “Len?...sabar yaaa” Rena seolah tahu apa yang aku
rasain dia memeluk aku dengan kuat, aku tetap menangis tiada henti, tapi air mata
ini tak kunjung kering.
3 hari lagi aku harus operasi, dan
operasi yang sangat riskan, karena aku harus kehilangan 90% memori aku selama
aku hidup, otomatis aku gag akan ingat dira, senyum dia, kata2 sayang dia,
kehangatan dia, kata2 motivasi yang keluar dari mulutnya, aku ga akan lagi bisa
dengar. Selama ini aku meminta bantuan rena untuk merahasiakan tentang penyakit
aku, dan mengatakan ke dira kalau aku ada urusan keluar kota untuk waktu yang
tidak ditentukan.
Hampir tiap hari aku mendengar
ringtone sms dan telp dari dira tapi tak satupun aku balas, aku hanya melihat
sambil mengeluarkan air mata, jeritan hati aku yang tak trima dan tak bisa menahan
rindu yang teramat dalam kepadanya.
“Ren..” “yaa..” “kalau nanti aku
operasi..bilang sama dira kalau aku sangat mencintai dia,kalau ada apa apa yang
terjadi, tolong kasihkan kotak ini ke dia”Kotak itu berisi semua kenangan aku
dan dira “Alenn….” Suara rena lirih, butiran butiran air mata menari2 dikedua bola
matanya. “pasti len, tapi kamu harus yakin mujijat itu pasti ada, kamu harus
yakin..kalau kamu pasti ingat semua kenangan kamu sama Dira” “gag ren, aku sadar..bahwa
bintang itu hanya untuk dikagumi, bukan untuk dimilki..siapa aku,aku hanya
bayangan kecil yang gelap,yang hanya bisa merasakan kehangatan sinar bintang,
ada atau tidak ada aku, itu tidak akan berpengaruh pada bintang, bintang akan
terus bersinar,Dira adalah bintang hati aku, selamanya dia akan bersinar
disini, meskipun aku tahu mungkin bagi dira aku bukan siapa siapa,dia hanya
care ke aku Rena bukan cinta..”Isak tangispun tak dapat aku hindari “Len,
kenapa kamu ngomong seperti itu?, aku ngeliat Dira juga sayang sama kamu, gag
mungkin kalian bisa sejauh ini bersama
kalau dia gag sayang sama kamu.” “mungkin, tapi memang lebih baik seperti ini
Ren, seandainya dia cinta sama aku, ini akan semakin sulit buat aku, karena aku
gag bisa kasih harapan apa2 kedia” “ssttt..gag boleh ngomong apa2 sekarang
tidur oke, istirahat”
3 hari kemudian
“Alen kamu siap?” aku menganggukan
kepala, infus mulai dipasang dipergelanganku.
Yaa aku siap, aku siap dengan apa
yang akan terjadi nanti, selamanya aku selalu menganggap dira adalah bintang
aku, dan bintang itu hanya untuk dirasakan sinarnya bukan dimiliki, sekuat
apapun cinta aku, gag akan bisa merubah keadaan kecuali mujijat, teruslah
bersinar bintang, sinari aku yang lemah ini. Sadar Alen bintang itu hanya untuk
dikagumi bukan untuk dimiliki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar